ra semi

Ra Kuti dan Ra Semi

Kisah ini mengambil latar belakang di daerah Pajarakan, atau sekarang lebih dikenal sebagai Kabupaten Probolinggo. Pajarakan adalah daerah asal  Ra Kuti, salah satu dari tujuh Dharmaputra bentukan Raden Wijaya. Dharmaputra sendiri adalah jabatan yang diberikan kepada Raden Wijaya, raja pertama Kerajaan Majapahit dan berisi pegawai-pegawai istimewa yang disayangi raja. Adapun ketujuh Dharmaputra tersebut adalah Ra Kuti, Ra Semi, Ra Tanca, Ra Wedeng, Ra Yuyu, Ra Banyak dan Ra Pangsa. Dan kesemuanya tewas dalam pemberontakan pada masa pemerintahan Jayanegara, raja kedua Majapahit setelah Raden Wijaya.

Kidung Sorandaka menyebutkan pada tahun 1316 ayah Patih Nambi yang bernama Pranaraja meninggal dunia di Lumajang. Ra Semi ikut dalam rombongan pelayat dari Majapahit. Patih Nambi difitnah melakukan pemberontakan oleh Mahapati yang licik. Karena sang raja, Jayanegara, terlanjur percaya kepada hasutan Mahapati, ia pun mengirim pasukan untuk menghukum Nambi. Saat pasukan Majapahit datang menyerang, Ra Semi yang masih berada di Lumajang bersama anggota rombongan lainnya mau tidak mau bergabung membela Nambi. Akhirnya, Nambi dikisahkan terbunuh beserta seluruh pendukungnya, termasuk Ra Semi.

Kitab Pararaton selanjutnya mengisahkan adanya pemberontakan selanjutnya yang dipimpin Ra Kuti pada tahun 1319. Pemberontakan ini terjadi langsung di ibu kota Majapahit dan jauh lebih berbahaya dibandingkan pemberontakan Ra Semi. Meskipun demikian, Jayanagara sekeluarga berhasil melarikan diri dengan dikawal para prajurit bhayangkari yang dipimpin seorang bekel bernama Gajah Mada. Setelah mengamankan rajanya di desa Badander, Gajah Mada kembali ke ibu kota untuk mencari dukungan dari para pejabat dan juga rakyat di ibukota. Setelah meyakini kalau pemberontakan Ra Kuti ternyata tidak mendapat dukungan rakyat, maka Gajah Mada pun berhasil memusnahkan gerombolan Ra Kuti.

Setidaknya itulah yang diyakini oleh Gadjah Mada dan Mahapati. Bahwa Ra Kuti dan Ra semi sudah mati. Namun mereka memang tidak pernah menemukan mayat mereka berdua. Dan baru-baru ini mereka terlihat di lautan pasir Pegunungan Bromo, keluar dari persembunyian mereka setelah beratus-ratus tahun lamanya.

Ra Kuti dan Ra Semi

Sumber asli dari ceritera ini ada di sini.

Foto diambil oleh @budibujhel dengan menggunakan kamera @paningron

Advertisements