tuhannya sama

Ada aku, kamu, kekasihku, kekasihmu, tuhanmu dan tuhanku. Tidak ada yang bisa paham kenapa cinta itu tumbuh diantara kita. Bukan salah cinta ketika dia datang dan ada di antaranya. Cintamu untukku,kekasihmu dan tuhanmu. Cintaku, untukmu, untuk tuhanku dan mungkin untuk kekasihku esok, jika aku mampu mengelabui logika bahwa aku tak dapat bersamamu.

Mereka yang bermain dengan logika, dengan gamblang menyatakan bahwa aku salah. Mereka tidak tahu rasanya, karena bukan mereka yang bercinta. Dan memang secangkir kopi pahit menunggu di depan jika aku memaksakan rasa untuk bertahan bersamamu. Pahit memang, namun itu tetaplah kopi, yang bisa aku beri gula dari kisah kita, hingga tiba waktu meminumnya bersamamu. Berbagi bersamamu. Itu indah.

Dan logika menang. Mereka menang dan tersenyum. Aku melepasmu dua tahun yang lalu. Beda itu membuatku merelakanmu menikahi kekasihmu. Demi apa ketika itu semua orang membuatku berpikir bahwa aku harus melepasmu. Tersenyum getir, demi sebuah kebaikan. Kebaikan siapa? Kebaikanku? Dusta. Itu bukan demi kebaikan. Karena sakit rasanya.

Lalu bagaimana dengan aku? Aku mengubur diri dalam pelukan dan kecupan lelaki yang aku kenal setahun kemudian. Kekasihku. Dia penyayang, tidak sama sepertimu, namun dia mampu membuatku melupakanmu, bahkan menghilangkanmu dari halaman-halaman hidupku. Begitu rajinnya dia membersihkan sisa-sisa cintamu dengan sentuhannya, dengan segalanya dia. Dia adiktif, membuatku mencandunya. Aku mau dia menggantikanmu. He’s my endorfin . Tuhannya sama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s